Announcement

E-Book Learning From The Best

68 views

SINOPSIS

Perjalanan hidup Sri Darma sebagai seorang akademisi dan pengusaha menorehkan sejarah baru bagi Undiknas. Cerita hidupnya adalah salah satu momen terbesar Undiknas di masa generasi kedua. Kenyataan bahwa dia berasal dari kaum muda membuatnya menjadi fenomenal, sekaligus diragukan pada awalnya. Ternyata, Sri Darma dapat membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak bisa hanya dilihat dari usia. Usia yang muda belum tentu tidak berpengalaman. Bahkan usia tua kadang cenderung konservatif dan tidak fleksibel pada perubahan. Yang dapat disimpulkan dari perjalanan hidup Sri Darma adalah bahwa kepemimpinan di era milenial bukan lagi tentang memberi perintah saja. Kepemimpinan di era global berarti sikap adaptif yang peka dan keinginan untuk terus mengikuti pola perubahan. Masyarakat milenial yang cerdas memerlukan pemimpin yang juga cerdas, dan pemimpin yang cerdas bakal dihargai oleh bawahan yang juga cerdas. Karena itu, Sri Darma mencetuskan Global, Smart, Digital. Segala komponennya, di samping berwawasan global dan serba digital, juga mesti smart. Orang-orang yang smart pastinya bisa memilih mana pemimpin yang juga smart. Walaupun teknologi informasi telah berkembang, masih banyak kalangan yang belum smart dalam menyaring dan memilah informasi. Banyak kabar hoaks dan fitnah yang menyebar di berbagai media. Sri Darma pernah menjadi salah satu korbannya, dan pastinya menjadi korban fitnah sangat menyakitkan. Belajar dari pengalaman itu, Sri Darma menegaskan pentingnya triangulasi informasi sehingga informasi itu bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Yang paling istimewa dari segenap kisah Sri Darma adalah tentang bagaimana pada akhirnya dia menemukan bahwa segala sesuatu telah dipersiapkan oleh Yang Kuasa. Di akhir jenjang karirnya yang melonjak di usia kepala empat, dia menyadari bahwa segalanya akan berakhir. Ini menjadi hal yang berharga baginya, bahwa bersyukur di setiap waktu adalah hal yang paling melegakan hati manusia. Akan tetapi, yang benar-benar patut disyukurinya adalah dia bisa terus berkarya bahkan dalam keadaan yang nyaris tak berdaya. Dia percaya bahwa dengan terus menghasilkan karya, nama seseorang menjadi abadi dan dikenang. Dengan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik, maka hasil yang terbaik akan mengikuti pula. Toleransi juga menjadi best practice Sri Darma dalam menjalani kesehariannya. Dari masa-masa sulit yang dia lewati, dia mendapat pelajaran bahwa sikap membenci dan iri hati adalah penyebab penyakit kronis. Penyakit itu bukan ada pada orang yang dibenci, namun sesungguhnya bersarang pada orang yang iri hati. Orang yang gemar memfitnah atau menjelek-jelakkan orang lain sesungguhnya bermasalah pada dirinya sendiri, yang tidak puas pada keadaan. Orang-orang seperti itu hanya menyalahkan keadaan daripada berusaha untuk beradaptasi pada keadaan dan menciptakan inovasi.

Terakhir, perjalanan karir dan kehidupan Sri Darma membuat kita menyadari bahwa adaptasi itu penting dan mutlak. Charles Darwin menyatakan bahwa makhluk hidup yang bertahan adalah mereka yang beradaptasi pada perubahan. Jika tidak demikian, seleksi alam akan memunahkan mereka. Seleksi alam seperti ini ada pada kehidupan sosial dan intelek manusia juga, sehingga sikap smart untuk menghadapi perubahan sangat penting dijalankan di era global dan digital. Smart berada ditengah-tengah, bagaikan tiang pasak yang menjadi poros majunya peradaban. Semoga kisah hidup Sri Darma, sang profesor pencetus global, smart digital ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Silahkan Download File E-Book ini pada Link dibawah ini :


Download File

Back to top